Wisata Budaya Adat Mangalat Horbo Yang Rutin digelarkan di Museum Huta Bolon Simanindo

Danau Toba yang selain kaya akan keindahan alamnya, juga kaya akan budaya, adat dan seni kehidupan masyarakatnya. Salah satu pertunjukkan budaya yang rutin dilaksanakan di Samosir adalah pertunjukkan tarian Batak Tradisonal yang dilaksanakan Di Museum Huta Bolon Simanindo. Kalau di daerah lain mungkin tidak rutin digelar, tergantung ada penonton atau tidak.

Museum Huta Bolon ini merupakan rumah adat warisan Raja Sidauruk. Sejak tahun 1967, rumah adat ini dijadikan museum terbuka. Beberapa koleksi ada didalamnya berupa peninggalan leluhur orang Batak Toba dari Samosir, antar lain seperti parhalaan, pustaka laklak, tunggal panalisan, dan Solu bolon.

Selain peninggalan sejarah, di lokasi ini disuguhkan Tarian Batak Tradisional yang lebih diminati oleh wisatawan asing dan wisatawan dari luar daerah Sumut. Kalau orang lokal sendiri sih…. Tidak berminat lagi untuk melihat budaya sendiri. Wisatawan lokal lebih berminat dengan alam danau Toba dan kegiatan di airnya.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman pohon guna untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung dan hanya mempunyai satu gerbang. Ini merupakan ciri khas kampung Batak dan hal yang sama pernah kami lihat di Bakara.

Rumah di dalam Huta tersebut berbaris disamping kiri dan kanan dari rumah raja. Rumah raja dinamai BOLON dan dihadapan rumah raja didirikan lumbung padi yang diberi nama SOPO. Halaman tengah diantara rumah BOLON dan SOPO, dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalat HORBO yang artinya untuk acara adat memotong kerbau dan memikul gondang. Ditengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun – daun yang melambangkan pohon suci (beringin). Tonggak tersebut bernama BOROTAN dan kerbau yang digiring akan disembelih di BOROTAN tersebut.

Pada akhir pertunjukan biasanya para penari akan mengajak penonton untuk menari bersama mereka sambil mengitari lapangan. Untuk moment ini sepertinya lebih menyentuh dan menghangatkan suasana yang penuh kekeluargaan. Terutama wisatawan asing yang suka akan hal-hal seperti ini.

Jam pertunjukan setiap hari untuk melihat acara ini :

  1. Jam 10.30 – 11.45 WIB
  2. Jam 11.45 – 12.10 WIB
  3. Kecuali hari Besar / Minggu jam 11.45 – 12.30 WIB

Desa Simanindo terletak antara Tuk – Tuk atau Tomok dan Panguruan. Lokasinya tepat disamping pelabuhan Simanindo saat ini. Tiket masuknya Rp. 50.000,- tergolong mahal untuk orang lokal. Biasanya orang masuk disesuaikan dengan jam pertunjukkannya. Ketika memasuki gerbang, beberapa makam raja Batak serta keluarganya sudah ada dibangun depan  dan dibuat dengan gaya khas Batak. Untuk menuju lokasi ini ada baiknya dengan kendaraan sendiri. Tergantung juga nginapnya dimana. Kendaraan umum memang jarang kelihatan di Samosir. Alternatif lain bisa sewa kendaraan disana. Teruatama sepeda motor dan sepeda.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Skip to toolbar