San Agustin Church, Gereja Tertua di Filipina

San Agustin Church – Ditengah gemerlapnya kota metropolitan Manila, yang hampir sama dengan kota metropolitan lainnya di Asia Tenggara, tetap memiliki sisi kota tua yang masih tetap terpelihara. Walaupun ada sebagian kota yang sisi kota tuanya tergerus oleh bangunan masa kini.

Arsitektur Langit-langit Gereja

Intramuros, kawasan kota tua Manila yang telah berkali-kali hancur akibat perang, kebakaran, gempa bumi, angin topan hingga akhirnya pada tahun 1979 mulai dilakukan restorasi dan pembangunan kembali kawasan Intramuros dan pada pada tahun 1987 menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi di kota Manila.

Sisi Lain Gedung

Kami termasuk yang paling tidak beruntung, karena setibanya di Intramuros, hujan lebat mengguyur kota Manila. Tidak hanya hujan lebat, sebagian lokasi sudah terendam banjur antara 20 – 30 cm. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Gereja tua San Agustin atau lebih dikenal dengan San Agustin Church terletak di tengah-tengah kawasan Intramuros, menyatu dan menjadi bagian dari saksi sejarah kota tua Manila.

Prosesi Kebaktian

Menurut sejarah gereja San Agustin mulai dibangun sejak tahun 1951, yang dulunya dinamakan Iglesia y convent de San Pablo dan berada dibawah naungan biara Agustinian. Dulunya para biarawan menggunakan alat-alat tradisional dalam membangun gereja ini. Sebagaimana struktur bangunan yang berkembang saat itu, gereja San Agustin dibangun menggunakan nipa dan bamboo. Pada tahun 1574, bajak laut Tiongkok, Limahong menyerbu Manila. Invasi ini menyebabkan pembakaran kota, termasuk gereja San Agustin. Hal ini kemudian menyebabkan rekonstruksi pertama gereja dilakukan setahun kemudian. Gereja kedua terbuat dari bahan kayu. Pilihan bahan kayu masih sangat beresiko terjadi kebakaran. Memang kemudian terjadi kebakaran yang menyebabkan kehancuran gereja ditahun 1583.

Para biarawan Augustinian memastikan tidak akan tejadi kesalahan yang sama, sehingga mereka memutuskan untuk membangun gereja baru dengan menggunakan batu bata. Tahun 1586, mereka menunjuk Juan Macias, seorang Spanyol, untuk memimpin desain dan pembangunan gereja. Akhirnya tahun 1607 baru secara resmi dinyatakan rampung. Struktur ini bahkan mampu menahan gempa kuat yang melanda Manila pada abad 16 sampai abad 17. Satu-satunya yang rusak dari San Agustin adalah runtuhnya salah satu dari menara lonceng gereja.

Prosesi Memasuki Ruangan

Seiring dengan usianya, gereja tertua di Filipina ini telah menjadi saksi banyak peristiwa penting dalam sejarah selama periode Spanyol. Pada tahun 1762, selama berlangsungnya Perang Tujuh Tahun, pasukan Inggris menjarah dan mengambil alih gereja. Lalu pada tahun 1898, San Agustin menjadi tempat bagi Amerika dan Spanyol membahas dan menandatangani penyerahan Manila ke Amerika.

Selama Perang Dunia II, pasukan Jepang menjadikan Gereja San Agustin sebagai kamp konsentrasi untuk tahanan. Dalam Pertempuran Manila tahun 1945, Jepang menyandera imam dan ratusan warga di dalam gereja. Untuk mengusir tentara Jepang yang tersisa, pasukan Amerika dan Filipina melakukan serangan udara di dalam Intramuros. Pemboman menyebabkan kematian beberapa warga sipil dan Intramuros menjadi puing-puing reruntuhan. Hanyalah Gereja San Agustin yang tetap berdiri tegak hingga berakhirnya perang.

Kegiatan Misa di Altar

Pada tahun 1945, Gereja San Agustin menjadi pusat paroki (Katedral) Immaculate Conception. Uskup Agung Manila meminta untuk memindahkan “kursi” dari Katedral ke Gereja San Agustin, karena ketika itu gereja Katedral hancur.  Setelah perang, San Agustin juga menjadi tempat rapat Dewan Paripurna Filipina yang pertama. Pada tahun 1976, pemerintah Filipina mengakui San Agustin sebagai National Historical Landmark. Undang-undang Republik No.10.066 atau Undang- Undang mengenai Warisan Budaya Nasional tahun 2009 menugaskan National Center for Culture and the Art untuk melestarikan gereja.

Pada tahun 1993, Gereja San Agustin disebut oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Hari ini, San Agustin tetap menjadi pesona Walled City of Intramuros.  Dalam bahasa latin, Intramuros berarti di dalam dinding. Yap, sesuai dengan namanya, kota Intramuros berada di dalam sebuah tembok yang dulunya difungsikan untuk melindungi kota yang berdiri sejak abad ke 16, yang awalnya merupakan pusat pemerintahan Spanyol selama menduduki Philipina.  Gereja ini juga menjadi rumah bagi makam pertama Gubernur Jenderal Miguel Lopez de Legazpi dan pemimpin Spanyol lainnya termasuk Juan de Salcedo dan Martin de Goiti.

Jejak Sejarah di Lantai

Selain sebagai gereja tertua di Filipina, daya tarik lain yang dimiliki San Agustin adalah kemegahan dan keindahannya. Pun mata seorang yang bukan senimanpun akan berdecak kagum pada keindahan San Agustin. Trompe l’ oeil karya pengrajin Italia Alberoni dan Dibella pada langit-langit (dalam) gereja tampak halus dan rinci langsung mempesona mata para pengunjung.

Desain geometris dan tema-tema keagamaan meledak di langit-langit, menciptakan efek tiga dimensi. Lukisan-lukisan dinding dengan geometris yang rumit terlihat sangat hidup. Lukisan-lukisan tersebut membantu menciptakan nuansa keagungan dan penghayatan permenungan doa. Para pengunjung benar-benar masuk dalam sebuah keindahan seni keagamaan yang mempesona.

Kawasan Intramuros

Struktur gereja yang besar simetris dan kompatibel ini memiliki kekuatan utama pada kemegahan interiornya.  Kita dapat melihat sebuah mimbar barok dengan nanas sebagai motif asli, organ pipa besar yang antik dengan salib dari abad ke-16, kursi paduan suara diukir seperti gading, dan chandelier set yang besar dan indah dari Paris. Semuanya menampilkan gaya Baroque yang asli. Indah nian.

Sebagai suatu karya seni, Gereja San Agustin merupakan sebuah karya seni yang mengagumkan. Keindahan gereja ini benar-benar memanjakan mata setiap pengunjung yang datang. Sebagai tempat ibadah, Gereja San Agustin menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran dan meneduhkan hati dalam perjumpaan dengan Tuhan. Keindahan Gereja ini, akan semakin membantu kita masuk dalam suasana doa. Akhirnya, jika sempat berkunjung ke Filipina, jangan lupa untuk datang ke gereja tertua di Filipina ini – San Agustin Church.

Amid the glitter of metropolitan Manila, which is similar to other metropolitan cities in Southeast Asia, still have the old town which are well preserved. Although there are some cities that has been eroded by the present building.

Intramuros, the old town area of Manila that has been repeatedly destroyed by wars, fires, earthquakes, hurricanes until finally in 1979 began the restoration and rebuilding of Intramuros neighborhood and in 1987 became one of the destinations that must be visited in the city Manila.

We are among of the unlucky, when we have steppedonIntramuros, there was heavy rain in Manila. Not only that, some locations has been full of flood between 20-30 cm. It is not much different from other major cities in Indonesia. The old church of San Agustin which is located in the middle area of Intramuros, fused and become part of a historical witness of the old city of Manila

According to the history, San Agustin church was built in 1951, formerly called Iglesia de San Pablo y convent and under the auspices of the Augustinian monastery. Formerly the monks using traditional tools to build this church. As the structures developed at that time, the church of San Agustin is built using nipa and bamboo. In 1574, Chinese pirates, Limahong invaded Manila. The invasion led to the burning of the city, including the church of San Agustin. This then leads to the first reconstruction of the church carried out a year later. The second church made of wood. Selection of wood is still a risk of fire. It then fires that caused the destruction of the church in the year 1583.

The Augustinian monks will ensure the same error occurs, so they decided to build a new church using bricks. In 1586, they appointed Juan Macias, a Spanish, to lead the design and construction of the church. Finally in 1607 was officially declared completed. This structure is able to withstand even a strong earthquake that hit Manila in the 16th century until the 17th century only the damaged of San Agustin is the collapse of one of the church bell tower.

Along with age, this Church has witnessed many important events in the history of the Philippines during the Spanish period. In 1762, during the Seven Years War, British troops loot and take over the church. Then in 1898, San Agustin became a place for the United States and Spain to discuss and sign the handover Manila to America.

During World War II, Japanese forces to make the Church of San Agustin as a concentration camp for prisoners. In the Battle of Manila in 1945, Japan seized the priests and hundreds of people in the church. To expel the remaining Japanese soldiers, American and Filipino forced conduct air strikes in Intramuros. The bombings led to the death of several civilians and Intramuros into rubble. San Agustin is the Church which remained standing until the end of the war.

In 1945, San Agustin Church became the parish center (cathedral) Immaculate Conception. Archbishop of Manila request to move the “seat” of the Cathedral to the Church of San Agustin, because when it is the cathedral church destroyed. After the war, San Agustin was also a meeting place Plenary Council of the Philippines first. In 1976, the Philippine government recognizes San Agustin as a National Historical Landmark. Republic Act No.10.066 or the Law on the National Cultural Heritage in 2009 commissioned the National Center for Culture and the Art to preserve the church.

In 1993, the Church of San Agustin was named by UNESCO as a World Heritage Site. Today, San Agustin remains a charm Walled City of Intramuros. In Latin, Intramuros means within its walls. Yap, as the name suggests, the city of Intramuros is located in a wall that once functioned to protect the town that stood since the 16th century, which was originally the administrative center of Spain for occupying the Philippines. The church was also home to the tomb of the first Governor-General Miguel Lopez de Legazpi and other Spanish leaders, including Juan de Salcedo and Martin de Goiti.

Apart from being the oldest church in the Philippines, another attraction owned San Agustin is the grandeur and beauty. Even the eyes of a non artistwill amazed at the beauty of San Agustin. Trompe l ‘oeil Italian artisans Alberoni and Dibella on the ceiling (in) looked smooth and detailed church directly dazzle the eyes of the visitors.

Geometric designs and religious themes burst in the ceiling, creating a three-dimensional effect. The frescoes with intricate geometric looks very lively. The paintings are helping to create the feel of grandeur and appreciation of contemplation prayer. The visitors actually enter into a dazzling beauty of religious art.

A large church structure compatible symmetrical and has core strengths in the grandeur of the interior. We can see a baroque pulpit with pineapple as the original motif, large antique pipe organ with the cross of the 16th century, the choir seats carved ivory, and large chandeliers and beautiful set of Paris. All featuring the original Baroque style. What a beautiful.

As an art, the church of San Agustin is a work of art. The beauty of this church really spoil the eyes of every visitor who comes. As a place of worship, the Church of San Agustin be the perfect place to soothe the mind and calm the heart in the encounter with the Lord. The beauty of this Church, will further help us enter in an atmosphere of prayer. Finally, if it were able to visit the Philippines, do not forget to come to the oldest church in the Philippines.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Free Email Updates
Get the latest content first.
We respect your privacy.