Pulau Senggarang, Potensi Wisata Pemukiman Terapung dengan Nilai Akulturasi Budaya

Nama populernya disebut Pulau Senggarang, namun sebenarnya dapat dicapai dengan perjalanan darat dari kota Tanjung Pinang, ibu kotanya propinsi Kepri. Perjalanan darat lebih jauh dan mobil tidak dapat masuk ke lokasi perkampungan. Sepertinya perlu waktu sekitar 45 menit – 1 jam melalui perjalanan darat, karena harus melalui lintasan jalan yang memutar (jadi teringat dulu cara ke klenteng akar, rupanya sudah dekat). Paling dekat dengan cara menyeberang menggunakan kapal kecil (muat sekitar 6-7 orang) dari pelabuhan kecil di pelantar 1 atau pelantar 3 di Tanjung Pinang kota menuju pelabuhan Senggarang. Waktunya hanya 15 menit langsung ke dermaganya atau bisa sampai ke rumah orang (mungkin disebut halaman rumah orang) bila air laut sedang pasang.

Tentang Senggarang

Pulau Senggarang dikenal sebagai kawasan pecinan tertua di wilayah Tanjung Pinang. Suku Tionghua yang sudah sejak dahulu kala dan tempat pertama disinggahi dan didiami para imigran dari Tiongkok sebelum mereka menyebar ke pulau-pulau lainnya di Kepri. Mayoritas pengguduk Senggarang beretnis Tionghua dan umumnya menggunakan bahasa atau dialek Teow Chew dalam komunikasi diantara warga. Menjadi menarik ketika sampai saat ini masih tetap dihuni, walaupun belum dikembangkan menjadi tujuan wisata.

Dermaga panjang di Senggarang, salah satu cara mengatasi laut surut – Pulau Senggarang – Petrus loo – klayapan.com

Tanjung Pinang merupakan daerah kota tua dari Pulau Bintan, jaraknya dekat dengan pulau Batam maupun Singapura. Seolah-olah pulau itu terbelah jadi 2 bagian, karena sebagian lagi banyak berdiri resort dan hotel mewah yang merupakan kawasan baru yang telah berkembang pesat, seperti daerah wisata Lagoi. Satu sisi lagi adalah kota tua dengan kondisi kota seperti apa adanya sejak jaman dulu. Dahulu kala Tanjung Pinang merupakan pusat pemukiman masyarakat Tiong Hoa suku Teow Chew dan Hokkien di abad ke 19 hingga abad 20. Senggarang terkenal dengan nama Chao Po (artinya kotanya orang Teow Chew), sedangkan Tanjung Pinang terkenal dengan nama Fo Po (artinya kotanya orang Hokkian). Bagi generasi tua sekarang ini menyebut Senggarang sebagai ”Toa Po” (Kota Tua Lama) dan Tanjung Pinang disebut “Siao Po” (Kota Baru).

Catatan sejarah

Menurut literatur, Pulau Senggarang merupakan pemukiman tua yang dibangun oleh komunitas Cina suku Teow chew mulai abad 18 sekitar tahun 1722. Senggarang berada di seberang kota Tanjung Pinang yang sekarang merupakan ibukota propinsi kepulauan Riau sejak tahun 1958, sebelumnya ia merupakan ibukota Propinsi Riau yang kini ibukotanya telah pindah ke Pekan Baru (daratan).

Vihara Dharma Sasana yang sudah terletak di daratan Tanjung Pinang – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Selain perumahan terapung, Senggarang menyimpan banyak saksi sejarah peninggalan orang – orang yang pertama kali mendarat di pulau ini. Beberapa lokasi telah menjadi objek wisata Bintan, seperti Klenteng wisata Akar (Tien Shang Miau) dan Vihara Dharma Sasana. Bagi yang tidak menyukai sejarah dan peninggalannya, tentu agak sulit memahami kayanya nilai budaya akulturasi Melayu Tionghoa Bugis.

Salah satu klenteng di senggarang – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Selain itu juga ada rumah bersejarah Letnan Tan Soe Lie (Tan Swie Kie) yang pernah menjabat sebagai Liutenant der Chineesen te Noord Bintan (Letnan Cina untuk Bintan Utara) dari tahun 1916 sampai tahun 1942. Dalam almanak Hindia Belanda, nama Tan Soe Kie juga tercatat dengan ejaan Tan Swie Kie. Rumah bercat merah muda itu disebut Rumah Yuan He Xing (Nguan Hak Hen) diambil dari nama perusahaan gambir dan karet yang dimiliki keluarga Tan.

How to go

Puji syukur kepada Tuhan, saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke pemukiman Senggarang yang penuh sejarah ini. Kebetulan menyeberang dari Pelantar I (atau berapa sudah lupa), yang jaraknya dekat Ferry ke Tanjung Pinang. Jadi rute perjalanannya, kita harus tiba di Batam dulu, baru kemudian menyeberang dengan Ferry sekitar 1 jam ke Tanjung Pinang. Kemudian naik kapal kecil ke Senggarang, biayanya cukup Rp. 5000,- per orang. Pelabuhan Tanjung Pinang juga dapat menghubungkan pelabuhan Situlang Laut, Johor dan Tanah Merah, Singapura.

Rumah diatas laut – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Mendarat Dermaga Senggarang yang sangat panjang, awalnya saya tidak mengerti kenapa dermaganya harus sepanjang itu menjorok ke laut. Ketika memperhatikan pasang surutnya air laut, baru mengerti apa fungsinya. Apabila laut sedang surut, sulit bagi kapal kecil untuk mencapai Senggarang. Masyarakat sekitar menggunakan kapal kecil untuk transportasi sehari – hari ke Tanjung Pinang, baik yang bekerja maupun yang ke sekolah. Sebagian besar rumah penduduk sudah mengalami banyak perubahan, seperti sudah berbentuk rumah batu, bukan lagi rumah kayu dan lantainya sudah keramik. Sehingga sebagian besar rumahnya sudah rapi dan bersih. Namun budaya dan adat istiadat Tionghua masih terasa kental disini. Kebetulan waktu saya disana sedang memasuki hari Cap Go Meh (hari ke 15 penanggalan imlek) atau hari terakhir perayaan imlek menurut adat istiadat. Semua rumah di depannya ada di pasang lampion dengan sumber cahaya lampu listrik. Namun sayangnya tidak ada keramaian, malamnya juga sepi – sepi saja. Saya sudah berharap akan ada keramaian disini.

Jalan setapak dermaga menuju ke perkampungan – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com
Alat transportasi sehari-hari dari Tanjung Pinang ke Senggarang – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Rupanya disini generasi mudanya sudah banyak yang melanjutkan kehidupan di wilayah lain, seperti ke Pulau Jawa, Bali dan Batam. Sehingga yang tinggal mayoritas orang – orang tua yang sudah pensiun dan anak – anak yang masih sekolah. Sehingga malamnya tidak ada lagi keramaian disini. Termasuk hari besar keagamaan maupun adat istiadat. Yang didapat disini kebetulan ada ulang tahun dewa di sebuah vihara, sehingga ada kegiatan ritual yang lumayan ramai. Semua masyarakat berkumpul disini, walaupun tidak semuanya penganut Kong Hu Cu.

Kehidupan masyarakatnya

Hampir mirip dengan Chew Jetty, Penang, Senggarang juga punya keunikan dan kemiripan struktur bangunannya. Rumah-rumah yang dibangun dari pondasi kayu yang dibangun sejak lama masih berdiri sampai saat ini. Perbedaaannya sekarang sudah tersentuh modernisasi, sehingga banyak rumah yang pondasinya telah berubah menjadi beton, sama dengan dengan rumah-rumah diatasnya sudah menggunakan semen dan batu, tidak lagi kayu. Sehingga rumah-rumah yang sudah tersentuh moderninasi, terkesan mewah dengan lantai keramik dan dinding dengan tembok bata. Pasang surut air laut akan dapat terlihat jelas dan dirasakan dibawah rumah tempat tinggal mereka. Ketika air laut pasang, permukaannya mendekati lantai dasar rumah. Belum pernah dengar air lautnya meluap sampai melewati batas rumah. Jangan heran juga kalau limbah dari penghuni rumah juga langsung menuju ke laut. Bila di saat pasang memang tidak terasa amat, tapi ketika surut akan sangat terasa. Semua limbah kotoran manusia langsung menuju ke laut dibawah, baik pasang maupun surut.

Perumahan dari kayu masih ada – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com
Jalan setapak menjelang malam hari – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Tidak hanya rumah, jalan setapak atau pelantar, seperti jalan di perkampungan, sudah di cor beton. Lebarnya hanya sekitar 1.5 sampai 2 meter, sehingga hanya dapat dilalui sepeda dan sepeda motor. Sumber air bersih menjadi sangat berharga disini, karena masyarakat harus membelinya untuk kepentingan sehari-hari, misalnya untuk kebutuhan mandi maupun minum. Sebagian besar masyarakat setempat menjalankan tradisi kepercayaan Kong Hu Chu, walaupun ada keluarga yang menjalankan atau menganut agama Budha, Kristen maupun Islam. Ada beberapa Kelenteng dan vihara sudah lama berdiri disini, selain gereja dan masjid. Namun, toleransi antar umat beragama dapat dirasakan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Setiap adanya perayaan keagamaan, mereka saling mengunjungi, bahwa ikut berpartisipasi.

Warung sederhana penduduk sekitar – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com
Cengkrama para lansia diwaktu malam – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Senggarang mulai sepi 5 tahun belakangan ini, banyaknya warga , terutama yang kaum muda sudah merantau kedaerah lain, baik untuk melanjutkan kuliahnya maupun yang mencari peruntungan dan pekerjaan dikota lain. Dengan kondisi kehidupan yang begitu saja, mungkin tidak lagi menarik buat anak muda. Lapangan kerja juga tidak tersedia buat mereka, terutama orang tua mereka mungkin ada yang masih nelayan atau menjadi nahkoda boat kecil untuk transportasi masyarakat.

Melihat kondisi didalam perkampungan terapung – Pulau Senggarang – Petrus Loo – Klayapan.com

Sayangnya potensi wisata di desa terapung atau Pulau Senggarang ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah untuk dikembangkan menjadi tempat wisata, seperti yang sudah dilakukan Chew Jetty di Penang. Didepan atau diseberangnya ada kampung Bugis yang sudah menjadi kampung wisata desa pelangi, dimana semua rumah-rumah disana sudah dicat warna warni. Mungkin Senggarang belum menjadi prioritas pemerintah daerah untuk menjadikannya sebagai desa wisata.

2 Comments
  1. Charlie Wijaya says

    Ada beberapa lokasi yg dulu kita pernah pergi waktu ke pulau Bintan…

    1. Petrus loo says

      waktu itu kita ga masuk ke perkampungan ini. hanya sampai di klenteng akar itu saja

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Free Email Updates
Get the latest content first.
We respect your privacy.