Pembuatan Mie Lethek Srandakan dibantu Lembu Seperti Ikan Lohan
Wisata Yogja memang terlalu banyak yang bisa dilihat. Bukan hanya seni, budaya, peninggalan sejarah, alam, kuliner tetapi banyak kegiatan masyarakat yang masih diproses secara tradisonal. Seperti melihat proses pembuatan Mie Lethek di kecamatan Srandakan, Bantul, Yogyakarta yang merupakan sentra produksi Mie Lethek. Salah satu icon kuliner di Sandrakan.

Apa yang aneh dari proses produksinya? Selain manusia, ada lembu besar yang bagian bawah belakang kepala ada “nengnong” / jambul seperti ikan Lohan yang pernah ngetop beberapa tahun yang lalu. Jambul itu entah karena beban atau memang sudah ada. Lembu atau sapi atau apalah namanya dipergunakan untuk menggerakkan alat pengaduk baku mie lethek. Bahan baku utamanya tepung tapioka (singkong) dan gaplek (singkong kering). Kedua bahan itu diaduk dengan menggunakan alat penggiling tradisional berbentuk silinder besar yang ditarik oleh lembu / sapi. Sang lembu asyik berjalan berputar-putar mengitari alat pengaduk tersebut. Apa lembunya gak pening?….Kita yang liat pun bisa pening.


Proses produksi mie lethek sangat membutuhkan tenaga manusia, sehingga sentra home industry yang kabarnya sudah ada sejak tahun 1940an menyerap banyak tenaga kerja daerah sekitarnya. Selain alat penggiling tradisional, ada mesin press yang digunakan untuk mencetak mie yang kemudian dijemur. Setelah dijemur, baru dipacking untuk penjualannya. Alat ini juga dioperasikan secara manual. Kalau penjemurannya mengharapkan tenaga matahari, mungkin dimusim hujan akan berkurang produksinya.

Mie Lethek ini menyerupai bihun. Cuma ukurannya agak besar dan warnanya juga tidak putih atau kuning, tapi sedikit agak keruh dan tidak menarik secara visual. Tidak seperti mie lainnya yang berbahan baku tepung terigu yang terlihat putih bersih. Sesuai dengan dengan asal bahasanya, “Lethek” itu bahasa Jawa yang artinya tidak bersih. Tapi jangan lihat tampilannya kata orang, ini sudah menjadi kuliner yang melegenda di Sandrakan. Karena proses pembuatannya masih tradisional, tidak ada tambahan bahan pengawet atau pewarna.

Biasanya diolah menjadi mie goreng atau mie rebus khas Jawa. Kuliner dengan bahan baku mie lethek ini dapat ditemui didaerah sekitar dan ada yang sangat terkenal. Seperti warung Mie Lethek Kang Sum di seputaran bekas pasar Imogiri, mie lethek mbah mendes di Sorobayan, Gadingdari, sandel, Bantuk. Mie Lethek Sandrakan Retnoseptyorini.