Home / Indonesia / Meriahnya Peringatan 612 tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho (Sam Po Tay Djien) di Semarang

Meriahnya Peringatan 612 tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho (Sam Po Tay Djien) di Semarang

Pengalaman pertama mengikuti kemeriahan acara memperingati 612 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho (YM. Kongco Sam Po Tay Djien) dan untuk yang kedua kali saya mendapat kesempatan mampir di kota Semarang setelah 3 tahun. Menurut informasi, kegiatan ini merupakan agenda rutin pariwisata tahunan kota Semarang. Laksamana Cheng Ho dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kota Semarang.

Masih segar di ingatan, hari Jumat tanggal 21 Juli 2017 kami tiba di klenteng Tay Kek Sie Gg. Lombok, setelah kuliner mala, di Semawis, kuliner street food di daerah Pecinan, Semarang. Gang Lombok sudah ditutup, karena sudah ramai di dalam. Didalam kompleks klenteng sudah padat orang – orang yang hadir maupun pelaksana kegiatan.

Aneka pertunjukkan sudah berjalan sejak sore hari. Ada barongsai, tari Liong (naga) dan ada panggung kesenian. Didalam klenteng, banyak masyarakat yang sedang melakukan ritual sembahyang. Asap dari bakaran hio menghiasai semua ruangan di dalam klenteng. Terlebih Tay Kek Sie merupakan klenteng yang paling banyak dewanya. Bagi yang pertama kali sembahyang mungkin harus dipandu, karena urutan dan banyaknya dewa.

Itinerary Sumatera 10 Hari

Sepanjang malam sampai jam 12 malam tetap ada acara. Termasuk kunjungan duta besar RRT dan kunjungan dari klenteng tetangga. Mereka masuk kedalam klenteng dan memberikan pertunjukkan barongsai ataupun tari naga (liong) dihadapan altar sang dewa. Sekaligus menyerahkan barang bawaan mereka ke altar. Ritual – ritual seperti ini sudah tidak ada ditemukan di Sumatera Utara, tidak tahu kalau daerah lain apakah masih ada. Kesan tradisi dan adat yang lama masih dijalankan di Semarang.

Menjelang malam, para bhe koen dan umat yang bernazar mulai dihiasai wajah mereka seperti ritual wayang orang jaman dulu. Mereka ini pagi subuh jam 5 akan ikut kirab, berjalan menuju klenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) yang paling besar dan terkenal di Semarang.

Wisata Pontianak Kalimantan Barat: Panduan Lengkap untuk Pelancong

Saya tiba kembali di Klenteng Sam Po Kong jam 7 pagi, akibat tidak dapat menahan kantuk di tengah malam. Iring – iringan kirab sangat ramai melintasi jalan protokol Semarang. Walaupun hari masih pagi, kemacetan mulai terjadi ketika barisan antri memasuki pintu gerbang klenteng Sam Po Kong. Giliran masuk rombongan kirab menambahkan hiruk pikuk suasana di dalam pelataran Sam Po Kong. Namun  sangking luasnya halaman klenteng, terasa tidak penuh juga.

Mereka berjalan beringingan memadati jalan dengan mengusung Kio atau Tandu Kimsin (Arca) Ceng Ho, Tay Ciang, rombongan prajurit pembawa pusaka lambang kebesaran kerajaan Tiong Kok jaman dulu. Seekor kuda yang dilambangkan sebagai kendaraan ChengHo dan berikut pengawal kuda yaitu para bhe Koen yg wajahnya sudah di coret – coret.

Yang sangat menarik di iring-iringan ini adalah bercampurnya semua etnis dan suku dalam sebuah pesta kebudayaan. Selain yang menonton, justru pemainnya atau pelaksana acara, seperti pemain Barongsai dan Tari Naga, mayoritas bukan dari etnis Tiong hoa di Semarang. Kebersamaan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghargai perbedaan budaya dan justru menjadikannya sebagai atraksi budaya untuk menarik wisatawan. Wisatawan dari dalam dan luar negri sudah berkumpul disini untuk menyaksikan pagelaran budaya tahunan.

Wisata Bawah Laut Indonesia Terbaik: Panduan Lengkap 2026

Kesenian yang tampak tidak hanya kesenian Tiongkok, tapi juga kesenian daerah Jawa juga ditampilan. Bercampur baur dalam perbedaan, tapi bersatu untuk menyemarakkan acara. Nampak hadir dan memberi kata sambutan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. Menuruh sejarah Laksamana Cheng Ho mengunjungi kepulauan Indonesia selama tujuh kali. Pelayaran pertama sekitar tahun 1405 – 1407. Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), memberikan hadiah tanda mata kepada sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat kursi yang masih tersimpan di Keraton Kesepuluhan Cirebon.

Dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, orang kedua dalam armada Cheng Ho yang bernama Way Jinghong sakit keras. Karena ini dia diturunkan di pantai  Simongan, Semarang. Setelah itu Way menetap disana dan kelanjutannya kita bisa melihat peninggalan bukti sejarah seperti klenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung Mbah Lekadar Juragan Dampo Away Sam Po Kong.

Dalam literatur biografinya, Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle, kaisar dari Dinasti Ming di Tiongkok (1403-1424). Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan dijadikan kasim. Dia berasal dari suku Hui, salah satu suku yang secara fisik mirip suku Han, namun beragama Islam.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *