Pesona Jiuzaigou, Sepotong Surga di Atap Dunia.

Jiuzaigou yang terletak di ujung Dataran Tinggi Tibet memang diakui dunia mempunyai keajaiban alam yang menakjubkan dan tercatat di Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992 dengan nama Jiuzaigou Valley Scenic and Historic Interest Area. Merupakan sebuah Taman Nasional yang berlokasi di sebelah Utara Propinsi Sichuan, Tiongkok, dan masih termasuk wilayah dari Tibetan Area. Berada diketinggian 2000 – 4500 di atas permukaan laut, otomatis membuat Cagar Alam yang bebas polusi ini minim oksigen. Walaupun demikian, Jiuzaigou yang memiliki ragam ekosistem hutan, ratusan danau dan air terjun ini tidak kehilangan magnetnya dalam memikat turis lokal maupun turis mancanegara.

Hampir mustahil mencoba menjelajahi seluruh area Jiuzaigou hanya dalam kurun waktu 1-2 hari mengingat lembah eksotis ini memiliki luas 72.000 hektar yang terdiri dari pegunungan, danau, air terjun, sungai dan hutan pinus. Saya hanya berkesempatan mengunjunginya sehari, terpaksa harus memilih tempat-tempat yang sering didatangi turis karena lebih mudah dijangkau. Ada beberapa lokasi yang masih liar alamnya, dan perlu peralatan trekking lengkap untuk sampai kesana. Dikelilingi oleh Pegunungan Min yang notabene masih temasuk Pegunungan Himalaya, “surga dunia” ini merupakan tempat tinggal sekitar 150 species burung, 3000 species tanaman dan banyak diantaranya yang langka serta merupakan habitat alami bagi dua species binatang yang sudah nyaris punah, Panda dan Golden Snub-Nosed Monkey (Monyet Berhidung Emas).

Suku Tibet menganggap Jiuzaigou sebagai tempat suci dan sumber kehidupan bagi mereka. Dalam Bahasa Tibet dipanggil Zitsa Degu, nama yang diambil dari keberadaan sembilan desa yang menggantungkan hidupnya pada sumber air di lembah yang memang kaya dengan sungai, danau serta air terjun yang mempunyai kualitas air terbaik untuk dikonsumsi. Karena pertanian tidak diizinkan sepanjang lembah Jiuzaigou, penduduk lokal yang mayoritas Suku Tibet dan Suku Qiang yang merupakan suku tertua dan suku minoritas di Tiongkok, umumnya bekerja untuk taman atau hotel-hotel disana.

Jiuzaigou pernah dijadikan lokasi shooting film serial TV yang sangat populer di tahun 2006 “The Legend of The Condor Heroes”. Namun sayang sekali, karena kecerobohan beberapa crew film yang sempat merusak lingkungan yang terjaga asri ini, untuk seterusnya Pemerintah Tiongkok melarang pembuatan film di lokasi Taman Nasional ini.

Dibalik eksotisme Jiuzaigou tersimpan sebuah legenda yang dipercayai oleh Suku Tibet sampai sekarang. Mereka percaya terbentuknya danau-danau indah berwarna warni di Jiuzaigou karena dulu di sana berdiam seorang dewa gunung bernama Dago. Dewa Dago jatuh cinta kepada seorang dewi bernama Semo. Sang Dewa memberikan hadiah berbentuk kaca yang terbuat dari angin dan awan kepada Dewi Semo. Singkat cerita, hubungan mereka dirusak oleh dewa-dewa jahat. Semo yang marah kemudian memecah kaca tersebut menjadi 108 bagian dan dilempar ke bumi. Serpihan kaca itulah yang dipercayai berubah menjadi 108 danau jernih. Penduduk setempat menyebut danau-danau di Jiuzaigou “Haizi” yang artinya “Anak”. Suku Tibet memang menjaga danau-danau ini bagaikan menjaga anak sendiri. Mereka bahkan tidak memakan ikan-ikan yang hidup di danau. Disatu sisi mereka percaya ikan-ikan tersebut suci karena hidup di danau suci, disisi lain, ikan-ikan yang hidup sehat di danau menandakan air danau tidak tercemar.

Five Flowers Lake

Danau Five Flowers atau dalam Bahasa Mandarin disebut Wuhua Hai adalah salah satu objek terpopuler dan paling banyak dikunjungi turis. Boleh dikatakan bahwa Five Flowers merupakan danau primadona di Jiuzaigou. Lokasi ini termasuk yang paling mudah dijangkau dengan bus dan tidak perlu berjalan kaki jauh. Tetapi tentu bukan cuma itu alasannya, danau ini memang benar-benar spektakuler. Menyandang nama Wu Hua yang artinya Lima Bunga, air danau ini tampak berwarna warni didominasi warna turquoise berkombinasi dengan hijau, kuning, dan warna lainnya. Karena mengandung mineral tinggi, air danau luar biasa jernih sehingga kita bisa melihat pohon-pohon pinus tumbang yang tenggelam di dalamnya yang semakin menambah eksotismenya. Hampir tidak tampak riak di danau beraneka warna ini sehingga tampak seperti hamparan permandani indah yang digelar di bumi. Danau dangkal berkilau ini dinobatkan sebagai salah satu danau terindah di dunia. Five Flowers Lake juga merupakan landmark Jiuzaigou yang fotonya sering digunakan untuk menghiasi kalender.

Pearl Shoal Waterfall

Letak air terjun Pearl Shoal cukup jauh dari Five Flowers Lake. Kita harus berjalan kaki lebih kurang 20 menit karena lokasi air terjun tidak bisa dicapai dengan bus. Yang meringankan adalah akses jalan ke air terjun menurun dilengkapi anak tangga kayu dan pagar rapi untuk berpegangan. Berjalan jauh di alam pegunungan yang tipis oksigen membuat kita gampang lelah terutama bagi yang tidak biasa berolah raga. Sepanjang menuruni anak tangga, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan cantik. Jajaran hutan bambu di sebelah kiri, dan sebelah kanan adalah aliran air terjun Pearl Shoal. Suara gemericik airnya yang tidak termasuk deras sangat menenangkan telinga yang mendengarnya.

Pearl Shoal Waterfall memiliki lebar 270M dengan tinggi 21M dan dikelilingi hamparan gunung salju memang sangat menyegarkan mata. Air bening yang jatuh bergulir melewati bebatuan yang bertingkat-tingkat, sekilas menyerupai butiran mutiara yang bergelinding ke bawah, tidak heran jika diberi nama yang berarti “Untaian Mutiara”. Bagi pecinta serial TV “Journey To The West”, yaitu film yang berkisah tentang Sun Go Kong yang menemani Gurunya mencari kitab ke Barat, tentu tidak asing dengan pemandangan air terjun ini. Film tersebut beberapa kali berlokasi shooting disini. Tentu saja sebelum larangan pemerintah diberlakukan.

Long Lake

Long Lake atau Chang Hai merupakan danau terbesar, terdalam, dan tertinggi di Jiuzaigou. Terletak di ketinggian lebih dari 3500 dpl, stamina fisik diuji saat mengunjunginya. Spot ini bisa dicapai dengan bus hop on and hop off yang ada di Taman Nasional Jiuzaigou. Kita tidak perlu lagi membayar tiket bus karena tiket masuk di gerbang utama sudah mencakup semuanya selain makan siang tentunya.

Air danau berwarna biru pekat berkombinasi dengan warna kuning kehijauan, ditambah latar gunung salju dan hutan pinus disisi kiri kanan, membuat kita terpesona dan berdecak kagum. Danau yang mempunyai panjang 5 KM ini dinobatkan sebagai “Mother Lake” di antara 108 danau yang ada di Jiuzaigou. Karena debit air Long Lake ini tidak pernah surut di musim panas maupun meluap di musim semi karena tingginya curah hujan, Suku Tibet menjulukinya “Labu Ajaib”.

Long Lake menyimpan sebuah legenda yang diyakini oleh penduduk setempat. Bahwa pada zaman dahulu Jiuzaigou dikuasai oleh roh jahat, dan semua penduduknya hidup di dasar danau yang kelam. Seorang pemburu yang berasal dari gunung terpencil menaklukkan roh jahat tersebut dan berhasil mengusirnya. Namun Si Pemburu kehilangan sebelah tangannya dalam pertarungan itu. Untuk menjaga agar roh jahat itu tidak kembali, mereka percaya bahwa roh Si Pemburu berdiam di Long Lake sampai sekarang, berjaga-jaga dengan pedang di tangan yang masih utuh. Suku Tibet memang terkenal mempunyai banyak cerita rakyat yang mereka wariskan turun temurun.

Diamond Lake

Diamond Lake atau Danau Intan dalam Bahasa Indonesia adalah sebuah danau musiman. Danau ini akan penuh di saat musim semi yang mempunyai banyak curah hujan, dan mengering di musim panas. Karena ukurannya yang mungil, saya lebih suka menyebutnya telaga. Diamond Lake berpenampilan sesuai namanya, warna airnya bening kebiruan dengan dasar bebatuan besar membuat telaga indah ini tampak seperti sebutir intan. Mungkin memang dari sana namanya bermula.

Pada dasarnya Taman Nasional Jiuzaigou berbentuk Y jika kita melihatnya di peta. Dari gerbang masuk kita akan menuju ke suatu post di tengah dan dari sana kita bisa menentukan arah lembah yang mau kita kunjungi. Jiuzaigou terdiri dari tiga buah lembah yaitu Rize Valley, Zechawa Valley, dan Shezheng Valley. Dan yang paling banyak didatangi turis adalah Rize Valley, karena disana terdapat banyak spot-spot andalan Jiuzaigou. Rize Valley seakan galerinya Jiuzaigou. Kita hanya perlu menumpangi bus ke spot tertinggi, kemudian turun mengunjungi satu persatu spot yang ada dibawah. Bus akan berhenti di setiap halte spot yang kita mau. Rize Valley didominasi oleh pemandangan hutan pinus dan gunung salju.

Jiuzaigou adalah sebuah fenomena bumi yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Tetapi bagi yang mempunyai “penyakit ketinggian”, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu.

Anda bisa memilih saat kedatangan sesuai pemandangan yang ingin anda nikmati. Jiuzaigou memiliki 4 musim, dan setiap musim menyajikan pemandangan berbeda. Pemandangan terindah ada di Musim Gugur, dimana daun-daun berwarna merah, kuning, orange memberikan refleksi warna keemasan di danaunya.Di Musim Dingin, air danau akan membeku, hutan dan gunung akan diselimuti salju yang memberikan kesan indah dan tenang. Di Musim Semi, pengunjung bisa melihat Jiuzaigou dihiasi bunga warna warni dan sisa-sisa salju yang masih ada di puncak gunung. Sementara di Musim Panas, air danau akan bersinar seperti cermin yang terpantul cahaya matahari,hutan-hutan pinus tumbuh lebat dan hijau.

Seperti yang kita ketahui, Jiuzaigou adalah sebuah Cagar Alam yang dilindungi oleh Dinas Pariwisata. Pengunjung dilarang membawa kenderaan pribadi seperti mobil maupun sepeda kesana. Tempat penghentian mobil pribadi danbus pariwisata jauh dari gerbang masuk. Kita harus berjalan selama hampir 1 jam. Di dalam Taman Nasional telah tersedia bus hop on and hop off berwarna hijau bambu dengan gambar Panda. Bus-bus tersebut menggunakan tenaga surga sebagai bahan bakar. Tersedia juga van kecil yang bisa dicarter bagi yang tidak ingin berdesak-desakan di dalam bus, namun harganya relatif mahal.

Air danau di Jiuzagou memiliki warna yang jarang bisa ditemui di danau-danau tempat lain, karena keunikan warnanya sehingga dinamakan “King of Chinese Water Scenes”. Keindahan alam Jiuzaigou yang merupakan sebuah keajaiban bumi di salah satu lokasi tertinggi di dunia membuatnya layak disebut “Sepotong Surga di Atap Dunia”.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Skip to toolbar