Perayaan Pangguni Uthiram Kembali Digelar Kuil Shri Thendhayudhabani Lubuk Pakam

Setelah 75 tahun sejak berdirinya kuil Shri Thendhayudhabani di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Perayaan Pangguni Uthiram tetap dirayakan walaupun pernah berhenti di tahun 1975, kemudian dilanjutkan tahun 1999 setelah orde reformasi dimulai. Etnis Tamil sendiri telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan orang-orang asli Deli sejak kedatangannya secara besar-besaran ke wilayah Deli itu.

Seperti biasanya, selain kegiatan ibadah dikuil, juga diadakan kegiatan bernazar yang sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur ditujukan kepada Dewa Murugan, dewa kejayaan panglima para dewa kepercayaan Hindu Tamil, yang telah memberikan kehidupan kepada bagi umat manusia. Acara ini juga sekaligus memperingati ulang tahun Dewa dan tutup tahun bagi masyarakat India Tamil. Disebut Panguni karena berlangsung pada bulan Panguni, sekitar Maret atau April dalam penanggalan Masehi. Sedangkan Uthiram bermakna purnama puncak.

Kegiatan dan atraksi yang menarik bagi masyarakat sekitarnya tentunya adalah atraksi pawai keliling kota. Kegiatan dimulai dari ritual dan doa- doa, kemudian para pria yang ingin bernazar, ditusuk pipinya hingga tembus dan tanpa mengeluarkan darah, ada juga ditusuk lidahnya. Masyarakat mulai memadati sekitar sungai mulai dari pukul 10.00 pagi. Setelah jam 12.00, pawai baru dimulai dengan berjalan kaki dari Sungai Tangsi menuju kuil Shri Thendhayudhabani. Kali ini tidak terlalu banyak peserta yang bernazar (menusuk dirinya). Menurut Mohan Wanakem, pemuda yang menjadi panitia acara, tahun-tahun sebelumnya lebih meriah dan lebih banyak yang bernazar. Selain menusuk tubuh, mereka yang bernazar perlu membawa kavadi, penyangga dari logam atau kayu dengan berbagai hiasan diletakkan di bahu kanan selama perjalanan. Air suci diguyurkan, sementara para gadis kembali ke kuil dengan membawa kendi berisi susu. Dalam kepercayaan Hindu Tamil, susu yang berwarna putih adalah lambang kesucian.

Panasnya cuaca sangat luar biasa, sangat cepat menurunkan daya tahan bagi pengiring pawai. Para peserta pawai, termasuk yang mengiringi dalam jarak dekat dilarang menggunakan alas kaki. Yang menariknya lagi ada juga atraksi tarian barongsai mengiringi arak – arakan didepan, sebagai pembuka jalan dan mengikuti pawai sampai akhir. Hal ini memperlihatkan perbedaan budaya ternyata dapat disatukan dalam sebuah kegiatan keagamaan.

Ketika mereka tiba di kuil, segala tusukan dilepas, maka terlihatlah mereka yang tulus dan tidak. Mereka yang bersungguh-sungguh bernazar tidak akan mengeluarkan darah, meski logam panjang ditarik dari tubuhnya.

2 Comments
  1. Safit says

    Waah…nggak nyangka banget ada yg begituan di Lubuk Pakam. Penulisnya pinter nyari hal menarik, cuma editannya kayaknya yg perlu dirapiin lagi deh. Kapan kapan kunjungi blog saya dong di sandriani.com

    1. PETRUS LOO says

      thanks Safit . mohon dibantu juga cara penulisan yang baik …

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Skip to toolbar