Museum Kata, satu-satunya di Indonesia

“Aku belajar menaruh hormat kepada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun fikiran negatif tentang orang lain”

Andrea Hirata

Museum Kata – Disebut satu-satunya, karena memang museum di Indonesia itu tidak gampang dibuat dan kurang mendapat apresiasi seperti di negara maju umumnya. Apalagi museum yang tematik yang tidak bersifat umum. Disisi lain juga pendanaannya tidak mungkin didukung oleh pemerintah, belum lagi biaya operasional perawatannya.

Museum Kata, hasil karya Andrea Hirata terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi No. 7, Gantong, Belitung Timur. Andrea Hirata sendiri merupakan penulis novel Laskar Pelangi yang sangat terkenal itu dan termasuk orang yang mempopulerkan Pulau Belitung melalui film yang berasal dari novel karyanya. Suasana yang disajikan novel Laskar Pelangi langsung terasa ketika menginjakkan kaki di halaman depan museum. Foto-foto yang dipasang di halaman museum seperti bercerita mengenai perjalanan karya sastra yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Belitung. Lokasinya tidak jauh dari Kampung Ahok, hanya berjarak 5 menit kendaraan dan terletak di satu jalan. Museum Kata dan Kampung Ahok telah menjadi icon wisata di Belitung Timur.

Pintu masuk

Datang ke museum ini, pengunjung akan diajak menapaktilasi perjalanan novel Laskar Pelangi. Mulai dari cuplikan halaman per halaman novel laris tersebut hingga diangkat menjadi sebuah film yang sangat laris di Indonesia. Di museum ini, terdapat lebih dari 200 literatur dari berbagai genre, seperti literatur musik, literatur film, literatur anak, literatur seni, hingga literatur arsitektur. Meski banyak memasukkan karya penulis luar, kearifan lokal tidak luput dihadirkan di museum ini.

Beranda

Andrea terinspirasi The Mark Twain Boyhood Home and Museum di Hannibal, Missouri, Amerika Serikat. Pada 2010 lalu, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar sastra di University of Iowa selama tujuh bulan. Masuk ke dalam museum dan suasana itu semakin terasa. Di ruang ini, dapat dilihat foto-foto sang penulis dengan kalimat-kalimat inspiratif. Salah satunya adalah yang bertuliskan “Bermimpilah karena Tuhan anak memeluk mimpi-mimpimu”. Selain itu, juga terdapat cuplikan dari novel yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa ini.

Aneka Penghargaan

Literary Earth

Live Love Die

Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan disambut dengan sebuah ruang yang sangat nyaman, lengkap dengan meja beserta buku-buku yang dibiarkan berserakan di atas meja. Di ruangan ini, juga dipajang foto-foto adegan film Laskar Pelangi. Cover-cover Laskar Pelangi yang diterbitkan di berbagai negara juga menghiasi dinding ruang ini.

Novel Laskar Pelangi dalam berbagai bahasa

Design ruangan sederhana, tanpa ac, penuh dengan kekayaan warna, membuat para pengunjung lebih asyik berfoto ria, selfie, foto bersama ketimbang menikmati kata-kata yang menghiasi  seluruh dinding dan interiornya. Makin jauh lagi .. apalagi membaca buku-buku yang ada di setiap ruangan. Banyak sudah ditemui tulisan yang mengulas cerita selfie di museum ini.

Desain ruangan kaya akan warna

Narsis yang paling penting

Ruang penuh kata

Ruang baca buat pengunjung

Ruang utama menjadi penghubung ke ruang-ruang yang diberi nama berdasar nama-nama tokoh dalam Laskar Pelangi. Ruang pertama adalah Ruang Ikal. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat cuplikan novel yang menggambarkan sosok Ikal. Foto adegan ketika Ikal berpisah dengan Lintang pun menjadi pemandangan yang menarik di ruang ini. Foto ini diambil dari film yang disutradarai Riri Reza.

Ruang Ikal

Di sebelah Ruang Ikal, terdapat Ruang Lintang. Lintang merupakan sosok cerdas yang dibanggakan teman-temannya. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat foto-foto tokoh Lintang yang diambil dari film Laskar Pelangi. Di antaranya adalah foto Lintang dengan sepeda kesayangannya dan foto Lintang saat berboncengan dengan Ikal.

Ruang Lintang

Selain itu, terdapat satu ruang lain yang letaknya agak terpisah dengan Ruang Lintang dan Ruang Ikal. Ruang tersebut adalah Ruang Mahar. Mahar dikenal sebagai sosok nyentrik yang menyukai berbagai bentuk kesenian. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat foto-foto seniman yang menjadi inspirasi Mahar, salah satunya adalah Rhoma Irama.

Sudut ruang

Setelah melewati ruang Mahar, pengunjung akan sampai ke Ruang Dapur. Di ruang ini, pengunjung akan melihat sebuah dapur yang diubah menjadi warung kopi. Warkop Kopi Kuli, begitulah papan yang ditempel pada dinding di ruang ini. Di sini, pengunjung dapat memesan kopi sebagai teman bersantai atau berbincang-bincang menikmati suasana museum. Kopi disuguhkan dengan sangat tradisional dan sistim pengapiannya masih menggunakan kayu bakar.

Ruang dapur

Uniknya, ada lagi kantor pos yang berdekatan dengan dapur kopi. Dengan membayar Rp.15.000.- kita bisa mendapatkan kartu pos berikut prangko dan ada stempel pos nya untuk di kirim ke alamat yang kita kehendaki. Setting kantor pos nya sangat jadul.

 

Kantor Pos

Museum ini didirikan oleh sang penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Untuk masuk ke museum yang diresmikan pada Bulan November 2012 ini, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Museum ini juga sebagai pelunasan janji Andrea kepada publik. Di kala profit penjualan buku Laskar Pelangi begitu melambung, Andrea pernah berjanji bahwa ia akan mengalokasikan royalti untuk membuat sesuatu yang berbau pendidikan. Ada kotak donasi yang disediakan. Ada juga counter penjualan souvenir Laskar Pelangi. Sepertinya kemasan dan designnya tidak menarik, sehingga tidak terlihat ada yang beli.

Museum Kata Andrea Hirata menjadi museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia. Berkunjung ke museum ini bisa membuat pengunjung mengenal bagaimana karya sastra menjadi bagian penting bagi kehidupan. Dari museum ini, pengunjung bisa mendapatkan inspirasi untuk lebih mencintai karya sastra, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk mimpi-mimpi mu”

Andrea Hirata

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Skip to toolbar