Mengejar Gerhana Matahari Total di Pulau Belitung
Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 kali ini tidak hanya menciptakan sejarah arus wisatawan dalam mau pun luar negeri, tapi bagi kami sendiri juga menciptakan sejarah berburu GMT dari Medan sampai ke Pulau Belitung.
Sesuai rencana, kami yang tergabung dalam Toba Photographer Club (TPC) Medan tanggal 8 Maret pagi siap-siap menempuh perjalanan jauh ke Tanjung Pandan, namun harus transit terlebih dahulu di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Karena tidak ada penerbangan langsung dari Medan ke Tanjung Pandan. Rombongan yang berangkat jam 10 pagi dengan pesawat Sriwijaya merupakan rombongan terbesar, sisanya ada yang sudah berangkat satu hari sebelumnya (karena survey lokasi) dan ada juga yang beda pesawat dan ada yang sudah menunggu di Jakarta. Total ada 18 orang dalam rombongan.
Kami tiba di Tanjung Pandan penerbangan dari Jakarta sudah menjelang sore. Sepertinya sudah penerbangan terakhir dari Jakarta. Berbagai atribut penyambutan gelar wisata GMT terlihat suasananya di bandara. Ada backdrop yang bisa buat foto-foto , spanduk dan lain sebagainya. Setelah itu kami langsung menuju Tanjung Pendam untuk mengejar sunset. Lumayan kalau bisa dapat sunset sebelum langit gelap.
Kami tidak ikut hunting GMT di pantai Kelayang, yang menjadi pusat kegiatan para menteri dan pejabat negara lainnya. Team leader sudah melakukan survey satu hari sebelumnya, untuk tempat yang tidak terlalu ramai. Kami sepakat untuk memilih posisi di pantai Serdang di Belitung Timur. Menuju ke lokasi dan hotel kami di Tanjung Pandan butuh waktu 1.5 jam perjalanan darat dengan mobil. Tidak dapat dihindari lagi kami harus bangun jam 3 subuh unutk mengejar waktu

Menurut harian Kompas, Jalur totalitas gerhana membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana itu selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer, yang kali ini melintasi 12 provinsi di Indonesia. Provinsi-provinsi itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.
Tiba di Pantai Serdang, hari belum terang. Namun sudah mulai kelihatan titik cahaya yang muncul di perbatasan laut dengan langit dari pandangan kita ke laut lepas. Semuanya menyebar di sekitar pantai mencari titik spot masing-masing. Titik spot itu sangat penting untuk mentukan hasil foto yang didapat.

Kondisi cuaca memang sulit kita perhitungkan dan tidak bisa kita atur. Langit berawan dkita mahahari mulai muncul. Menjalang jam 7 pagi, pantai Serdang sudah ramai dikunjungi wisatawan dan masyarakat setepat. Lokasi ini memang tidak terlalu padat dengan manusia.




Perlahan, detik demi detik, menit demi menit, bulan dan matahari mulai menyatu. Untuk melihatnya langsung harus pakai kacamata khusus untuk menghindari cahaya yang dapat merusak mata. Ketika terjadi GMT, matahari dan bulan menyatu total, awan pun makin tebal disekelilingnya. Akibatnya GMT yang kita dapatkan tidak bulat bentuknya, karena sekitar 20% terhalang oleh awan yang mulai tebal. Ketika fenomena alam ini terjadi, langit pun menjadi gelap, seperti malam. Masyarakat yang menyaksikannya pun berteriak, masing-masing meluapkan ekspresinya dengan gaya masing-masing. Fenomena alam ini hanya terjadi beberapa menit. Kemudian saat Matahari dan Bulan melepaskan diri, awan pun tidak bersahabat lagi. Sebagian besar sudah di tutupi awan . Sebagai fotografer pasti kecewa dengan kondisi alam yang demikian. Tapi kita patut bersyukur masih di kasih lihat fenomena alam yang jarang terjadi di bumi ini.



