Masjid Sultan, Sejarah Perkembangan Islam di Singapura

Masjid Sultan, Sejarah Perkembangan Islam di Singapura – Terdapat beberapa masjid bersejarah di Singapura selain Masjid Sultan, diantaranya Masjid Hajjah Fatimah sejak tahun 1846, Masjid Omar Kampong Melaka sejak tahun 1820, Masjid Saka Tunggal sejak tahun 1288, Masjid Chulia sejak tahun 1826, Masjid Abdul Gafoor sejak tahun 1907.

Ketika menemani teman – teman seperjuangan yang akan melakukan sholat di masjid ini, saya menyempatkan diri untuk hunting di luar bangunan masjid. Sayang tidak terpikirkan untuk memotret di dalam masjid. Harusnya arsitektur didalamnya pasti sangat indah. Masjid Sultan terletak di kampong Glam dan merupakan titik utama masyarakat muslim di negeri Singa ini. Bentuk Kubah emas yang sangat besar dan tempat sholat yang sangat luas, menjadikan salah satu tempat yang wajib dikunjungi di wilayah kampong Glam yang bersejarah.

Masjid ini dibangun pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah yang merupakan Sultan pertama di Singapura. Pendiri Singapura, Sir Stamford Raffles memberikan SGD 3.000 untuk konstruksi gedung satu lantai dengan atap dua lapis. Seratus tahun kemudian. Masjid tua ini memerlukan perbaikan. Masjid yang sekarang kita lihat saat ini didesain oleh Denis Santry dari Swan and Maclaren, arsitektur tertua di Singapura, dan dibangun kembali pada tahun 1932.Ditetapkan sebagai monument nasional tahun 1975, masjid Sultan menjadi titik utama masyarakat Muslim sampai saat ini.

Saya sempat dua kali ke lokasi Masjid Sultan dalam 2 hari. Hal yang sama karena teman – teman mau sholat disana. Punya waktu 1 jam, sudah dapat mengcover lingkungan yang ada disekitar Masjid. Banyak toko souvernir dan rumah makan/ café dengan gaya dan masakan Timur Tengah. Lingkungan sekitar Masjid sudah menjadi objek wisata dan banyak turis mancanegara ada disitu. Hari kedua Sholat, saya baru menemukan Arab Street yang lokasinya sekitar satu blok dari Masjid Sultan. Tempat ini sangat menarik buat saya. Masuk kedalam lorong – lorong dengan kiri kanan café nuansa Timur Tengah dan Asia. Dinding di grafiti dengan sangat menarik. Semua disana hanya pejalan kaki. Tidak ada motor keluar masuk. Suasananya sangat tenang dan damai. Turis mancanegara ada disana menikmati suasana café atau berbelanja di toko – toko kecil disekitarnya.

Satu hal yang sangat menyenangkan disini, suasananya sangat tenang, walaupun tempat wisata. Tidak ada tukang parkir, preman, orang-orang yang nawarin belanja, dll. Semuanya terserah kita mau ngapain, asal tidak mengganggu ketertiban umum. Kemarin ketemu teman dari Singapura, bang Yusman Tajap di Medan. Dia bercerita tentang keanehan arsitektur di Masjid Sultan. Katanya ada di literatur sekolah di Singapura. Saya sendiri belum pernah terbaca referensi tersebut. Katanya di bawah kubah besar warna emas, ada susunan botol kaca dibawah lingkaran diameternya. memang tidak terlalu diperhatian dari jauh. Dia memperlihatkan dari foto dekat, ternyata memang begitu adanya. Belum tau kenapa harus begitu dan apa tujuannya. Botol kaca itu seperti botol coca cola atau sejenisnya yang masih pakai kaca.

2 Comments
  1. Asnhee says

    Kereeenn ko Petrus..👍👍

  2. Jogja Post says

    masya Allah luar biasa para sesepuh Islam di Nusantara… tengs artikelnya

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Skip to toolbar