Kisah Perjalanan Darat Sampai ke Kuil Putih Wat Rong Khun (White Temple) Chiang Rai, Thailand

White Temple Chiang Rai Thailand – Chiang Rai merupakan kota kecil diutara Thailand, kalau kita jalan terus ke Utara dalam perjalanan satu jam lagi sudah mencapai daerah segitiga emas (Golden Triangle). Dahulu terkenal dengan ladang opium dan lalu lintas perdagangannya yang terbesar di Asia, sekarang sudah berubah bentuk. Tidak ada lagi Opium, yang ada sekarang wisata. Thailand memang terkenal jagoan dalam memajukan industri wisata didaerahnya. Apapun bisa disulap menjadi tempat wisata, karena semuanya mendukung, termasuk manusianya.

Kota Chiang Rai sendiri juga sudah punya memiliki airport kecil, memudahkan bagi yang tidak mau menjalani perjalanan darat yang cukup jauh. Kami sendiri menempuh perjalanan darat, selain mau cari hemat juga ingin tau seperti apa perjalanan darat. Karena yang menarik, kami mulai dari perjalanan dengan menggunakan jalur kereta api. Kereta api kami mulai dari stasiun kereta api di Ayuttahaya, karena kami seharian berada di kota yang jaraknya 80 km dari Bangkok yang dulunya menjadi ibukota kerajaan Siam. Dari Bangkok ke Ayuttahaya menggunakan bus, karena ada guide freelance yang mengurus perjalanan hunting kami. Setelah seharian hunting di Ayuttahaya, menjelang sore kami dibawa ke sebuah rumah makan di tepi sungai yang sangat dekat dengan stasiun kereta api. Disini kami istirahat makan dan mandi seperlunya. Mendekati jam 7 malam, mulai jalan kaki menuju stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan kami menuju kota Chiang Mai.

Kereta api malam menuju Chiang mai, agak berbeda dengan kereta api malam dari Hanoi ke Sapa. Kalau di Vietnam kereta apinya ada kabin untuk kamar tidur, sedangkan yang di Thailand, kursi tempat duduk bisa dirumah menjadi tempat tidur dan besok paginya ketika hampir tiba di stasiun kereta api Chiang Mai, dirubah kembali menjadi kursi tempat duduk mirip dengan tempat duduk kereta api biasanya. Bagi yang belum pengen tidur , bisa bersantai di restorannya. Selain diiringi dengan gemuruh suara roda kereta api, juga diiringi dengan suara musik.

Kereta api berangkat sekitar jam 8 malam, tiba di stasiun kereta api Chiang Mai sekitar jam 7 pagi. Pagi hari, ketika matahari mulai terang, petugas mulai muncul merubah status tempat tidur kita menjadi tempat duduk biasa. Setelah itu, sarapan pagi mulai dihidangkan. Sinyal bahwa tujuan kereta api akan segera tiba ditujuannya.

Tiba di stasiun kereta api Chiang Mai, kami sudah ditunggu oleh bus yang akan membawa kami  ke kawasan segitiga emas (Golden Triangangle), setelah itu baru kami akan bermalam di kota Chiang Rai. Perjalanan darat menuju kota Chiang Rai memakan waktu 5 jam

Besoknya, kami memiliki waktu setengah hari mengunjungi  2 lokasi, sebelum kembali ke stasiun kereta api Chiang Mai untuk kembali ke kota Bangkok. Target hunting kami adalah Karen Long Neck Village dan kuil Wat Rong Khun (white temple) yang amat terkenal itu.

Hasil karya arsitek Cholermchai Kositpipat pada tahun 1997, yang konon kabarnya dilakukan dengan sukarela dan dengan biaya sendiri. Sampai saat ini telah dikunjungi enam jutaan wisatawan lokal dan mancanegara dan Wat Rong Khun telah menjadi salah satu tujuan wisata yang paling favorit di Chiang Rai, kawasan paling utara negara Thailand. Dengan jarak 783 km dari pusat kota Bangkok, Chiang Rai memiliki keunikan tersendiri, karena lokasinya menjadi pintu gerbang bagi para wisatawan yang hendak mengunjungi Myanmar dan Laos.

Wat Rong Khun berbeda dari candi lainnya di Thailand, dirancang dalam warna putih dengan beberapa kaca putih. Warna putih  melambangkan untuk kemurnian sang Budha, kaca putih melambangkan kebijaksaan Sang Budha yang bersinar terang untuk seluruh bumi dan alam semesta. Bagian dalam dari candi tidak diperkenankan untuk difoto, tentu sedikit mengecewakan buat para fotografer. Tidak hanya terhenti di arsitektur yang sangat modern dan mengagumkan, kuil bagi umat Buddha ini ternyata menerapkan ajaran Buddha dalam penentuan pembangunannya, dimana anda akan menemukan 9 bangunan yang terhubung satu sama lainnya melalui satu jalan, dari mulai pintu masuk dan keluar tersebut merupakan implementasi dari salah satu ajaran Buddha yang menggambarkan siklus hidup yang terus maju kedepan tanpa bisa kembali kebelakang.

Banyak sekali ornamen menarik yang bisa kita temui, mulai dari replika tangan yang menggambarkan neraka, hingga sebuah jembatan yang melintasi kolam, dimana jembatan itu dijaga oleh sepasang ular raksasa yang memiliki badan dan wajah manusia yang digambarkan dengan visual yang menakutkan. Namun begitu memasuki aula utama, berbeda dengan apa yang kita lihat diluar. Altar Buddha berwarna kuning keemasan yang sangat luar biasa. Semua relief yang ada juga menggambarkan semua filosofi dan ajaran Buddha serta teka-teki Dharma yang dilukiskan oleh seniman Charlemchai.

White Temple dibuka gratis untuk umum pada awal tahun 2009. Meski gratis, pengunjung harus memenuhi peraturan yang berlaku. Seperti berpakaian yang sopan dan tidak menyentuh detail bangunan. Pengunjung yang tidak patuh pada peraturan akan diperingati oleh penjaga melalui pengeras suara.

Mei 2014, gempa berimbas pada kerusakan di White Temple, meski tidak berdampak serius, namun meninggalkan jejak pada patahnya ujung bangunan kuil yang terletak dibelakang kuil utama.

Sekitar candi banyak tempat penjual jajanan, restoran, café dan penjual souvenir. Semuanya tertata rapi, tidak ada yang berjualan di jalanan, rapi, tidak ada preman atau pemuda setempat (PS) atau OKP disini. Semuanya nyaman , bersih dan menyenangkan.

Salah satu yang menarik, ketika kita sudah berjalan masuk, tidak diperkenankan lagi berjalan balik, tetapi harus terus jalan dan keluar melalui pintu belakang. Awal perjalanan seperti melewati neraka, yang direpresentasikan dengan tangan-tangan manusia, sampai kedalam candi merepresentasikan nirwana.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Free Email Updates
Get the latest content first.
We respect your privacy.