Rambusolo Upacara Adat Tana Toraja, Sulawesi Selatan

perjalanan menuju lokasi di pedalaman

Rambusolo Upacara Adat Tana Toraja – Tana Toraja berjarak sekitar 350 km bagian utara kota Makasar, dengan delapan jam jarak tempuh menggunakan kendaraan pribadi mau pun kendaraan umum. Salah satu daerah yang masih kental dengan adat istiadatnya.

kerbau hadiah dari kerabat yang siap di sembelih

Rambusolo adalah upacara adat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga dia tetap diperlakukan seperti orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan diajak berbicara.

proses pemotongan hewan

Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan, arwah yang mencapai tingkat dewa, atau menjadi dewa pelindung. Sehingga upacara Rambusolo menjadi sebuah “kewajiban”, akibatnya dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja mengadakannya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang telah meninggal dunia.

para famili jauh dan dekat serta penduduk sekitar yang mengikuti pesta adat

Puncak dari acara Rambusolo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan.

selesai ritual hewan persembahan

Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik dan merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga). Harganya dari puluhan juta sampai ratusan juta Rupiah per ekornya.

ritual yang disaksikan turis mancanegara

prosesi menuju ke tempat persemayaman

RAMBU SOLO (Ver.Inggris)

 

Makasar is the capital of South Sulawesi Province, in the central highlands of South Sulawesi. Tana Toraja is located about 350 km north of Makasar, 8-10 hour drive by car or public bus. One of the regions that its cultural values is still highly maintained by people of Tana Toraja.

“Rambu Solo” is a complex funeral ceremony of the ancestors. Tana Toraja people believe that Rambu Solo will perfect someone’s death. Hence, they consider that for those who die but haven’t got any Rambu Solo ceremony, they will not consider as died people. They will be treated like people who is ill or in weak condition. The dead people who still considered being alive, will also be treated same as the any other live family members. They are laid in bed before sleeping, they are prepared some food and drink, they are asked to talk and joke, like they used to do when they’re still alive.

salam dari keluarga

Therefore, local people consider this is important ceremony, because perfection ceremony will determine the position of this spirit is the person who died, the spirit of the dead will transform into wandering spirit (Bombo), a spirit that same level as God (To Mebali Puang) or protector spirit (Deata). So, to complete the people’s death, the family members have to hold Rambu Solo ceremony.

ritual mengantar jenazah

The funeral Procession, called “rante” consist of sequenced shows is held in an open space located in the middle of Tongkonan Traditional House complex. Various interesting rituals are held such as corpse wrapping process, process of decorating the coffin with gold and silver string and process of parading the wrapped corpse to a barn until its ready to be buried. When corpse is delivered, red cloth spread out cover the family.

inilah tempat yang dituju, bukan ditanam, tapi diletakkan

To slaughter the buffalo on this ceremony is unique, cut the neck with a single swing of chopper. Buffalo in Toraja has unique characteristics horns curved down or crusted striped called Tedong Bonga. The price is quite high starting from tens of millions up to hundreds of millions per kilogram.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Free Email Updates
Get the latest content first.
We respect your privacy.