Kyoto, Kota Budaya Di Negeri Sakura

Kyoto, Kota Budaya Di Negeri Sakura – Apabila tak paham dengan bahasa tuan rumah, pendatang bisa mendadak menjadi bisu, tuli dan sekaligus buta huruf. Hal tersebut yang saya alami ketika berkunjung ke Negeri Sakura pada awal November lalu yang bertepatan dengan Musim Gugur. Ditambah lagi Negeri Samurai ini terkenal dengan biaya hidupnya yang mahal bagi turis mancanegara. Melancong kesana tanpa lewat jasa travel harus diperhitungkan dengan cermat, alih-alih mau hemat malah biaya membengkak. Mencoba berwisata sebagai Pejalan Mandiri di Jepang, terlebih dahulu kita harus mencari informasi yang lengkap. Hal ini sudah tidak susah di zaman teknologi begini, di mana semua pintu informasi telah terbuka lebar, kita hanya perlu meluangkan waktu untuk rajin membaca blog-blog perjalanan para Backpacker yang terkenal hemat dalam berwisata.

Dari sekian kota yang saya kunjungi di Jepang, Kyoto adalah kota yang paling menarik bagi saya. Jika Indonesia memiliki Yogyakarta sebagai Kota Budaya, Jepang memiliki Kyoto sebagai Pusat Budaya Jepang. Banyak yang mengatakan “ jika ingin melihat Jepang di masa lalu, kunjungilah Kyoto”. Tidak heran orang menyarankan demikian karena di Kyoto kita bisa berjumpa dengan banyak turis-turis berkimono, mengunjungi ribuan kuil kuno, mencicipi cemilan tradisional Jepang, berjumpa ojousan-ojousan Jepang yang bersepeda dengan khas keranjang di depan sepeda, dan hanya di Kyoto kita bisa bertemu dengan Maiko atau Geiko. yang lebih dikenal dengan sebutan Geisha.

Kyoto pernah hancur karena perang, tetapi bekas ibukota Jepang ini terus berbenah sehingga kini menjadi salah satu kota wisata yang pantas dikunjungi. Kota berbukit-bukit ini juga terkenal sebagai kota pelajar sekaligus kota budaya. Selain memiliki tempat bersejarah dan ribuan kuil indah yang layak dikunjungi oleh turis, juga tercatat sebagai kota yang paling banyak mewarisi situs sejarah yang terdaftar di UNESCO. Disamping menyimpan banyak sejarah dan kaya budaya, kota berpenduduk ramah ini juga melahirkan teknologi modern. Merupakan perpaduan kota modern dengan kota kuno membuat Kyoto semakin menarik bagi wisatawan.

Karena memiliki ribuan kuil yang menarik, adalah mustahil bisa mengunjungi semuanya dalam waktu singkat. Untuk itu, saya hanya memilih mengunjungi beberapa tempat wisata dan kuil yang terkenal.

Golden Pavilion (Kinkaku-ji)

Kinkaku-ji atau Kuil Paviliun Emas adalah panggilan umum untuk Rokuon-ji, yang artinya Kuil Taman Rusa. Kuil bersepuh emas ini paling terkenal di antara ribuan kuil lainnya di Kyoto. Bangunan kuil ini memiliki tiga lantai, dan sesuai namanya, dua lantai diatasnya berwarna emas, konon kertas emas yang melapisinya adalah emas murni. Ketika diterpa terik sinar matahari, kuil ini akan memantulkan kilau keemasan yang indah, dan kita juga bisa melihat bayangan keemasan yang terpantul di permukaan air kolam Kyoko-chi yang mengelilingi Kuil Emas ini. Kuil mungil ini mempunyai pesona tersendiri di setiap musim. Saat musim semi, pengunjung bisa menikmati mekarnya Sakura di taman kolam. Saat musim panas, terik matahari akan memantulkan kilau warna emas kuil. Saat musim gugur, kita bisa melihat momiji atau daun musim gugur yang berubah warna. Dan di saat musim dingin, atap kuil akan dihiasi salju sehingga kuil seakan dikombinasi oleh warna emas dan perak.

Kuil Emas ini pertama kali dibangun oleh Shogun Ashikaga Yoshimitsu pada tahun 1397 sebagai tempat peristirahatannya, kemudian dijadikan kuil Buddha, terakhir diganti menjadi kuil Zen oleh anaknya sesuai wasiat Beliau sebelum wafat. Pada tahun 1950, kuil yang merupakan simbol Kyoto ini dibakar oleh seorang biksu yang menderita gangguan jiwa, dan direstorasi kembali oleh pemerintah Jepang pada tahun 1984 sesuai dengan struktur aslinya, bahkan emas yang melapisinya konon lebih tebal dari semula. Kin artinya emas, dan kinkaku artinya daun emas, jadi membangun kuil ini dengan warna emas adalah mutlak sesuai dengan nama yang disandangnya, Kinkaku-ji. Kuil yang memiliki taman dengan ciri khas kombinasi seni Jepang dan China ini ditetapkan UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

Arashiyama Bamboo Forest

Setelah mengunjungi Kinkaku-ji yang spektakuler, kini giliran Hutan Bambu Arashiyama yang terkenal dengan eskotismenya. Hutan Bambu ini letaknya cukup jauh dari pusat kota Kyoto. Arashiyama yang artinya pegunungan sebelah barat memiliki alam yang indah dan teduh karena didominasi oleh warna hijau serta dialiri oleh Sungai Katsura. Kita bisa menikmati keindahan alam Arashiyama dengan berdiri diatas jembatan Togetsu-kyo yang terkenal. Arashiyama mempunyai beberapa objek wisata seperti Monkey Forest, Kuil Tenryu-ji dan Bamboo Forest. Saya memilih mengunjungi Bamboo Forest karena selain tidak dikenakan tiket masuk, tempat ini juga terkenal paling banyak dikunjungi turis mancanegara.

Sejujurnya, ketika hendak mengunjungi hutan bambu yang sering beredar di internet ini, saya membayangkan akan melihat bambu-bambu yang sudah menguning di musim gugur. Di sana, pemandangan yang disajikan adalah hutan bambu yang masih hijau segar. Mungkin daun-daun bambu itu baru akan menguning di akhir musim gugur. Apapun warna daunnya, hutan bambu itu tetap indah dipandang dengan pepohonan yang tinggi menjulang dan jalan setapak yang tertata rapi. Suasana di tengah hutan bambu terasa begitu tenteram ditambah gemerisik daun bambu yang dihembus angin membuatnya beratmosfir mistis, kita seakan memasuki dunia yang sangat hening. Hutan Bambu Arashiyama ini dinobatkan sebagai objek wisata ke-2 yang paling banyak menyedot pengunjung setelah Kuil Emas.

Gion Corner

Sebenarnya mengunjungi Gion Corner yang berada di jantung kota Kyoto adalah alasan utama saya datang ke kota budaya Jepang ini. Gion Corner atau Geisha District merupakan kawasan dengan rumah-rumah kayu tradisional Jepang. Di malam hari, jalanan di Gion Corner hanya diterangi oleh cahaya lampion yang temaram sehingga menjadikannya seperti sebuah kota kuno Jepang di zaman dulu.

Sudah lama saya ingin mengunjungi distrik ini, yakni semenjak jatuh cinta dengan novel Memoir of A Geisha, karya Arthur Golden. Kata Geisha sendiri berarti Seniman. Dan profesi seorang Geisha adalah penghibur. Untuk menjadi seorang Geisha atau Geiko, demikian orang Jepang menyebutnya, tidaklah gampang. Seorang Geisha harus menguasai beragam kesenian Jepang, baik seni musik, seni tari, seni sastra, bahkan seni minum teh. Geisha, sosok wanita berkimono dan memberi kesan misterius ini sangat umum sebelum abad ke-20. Tetapi di masa sekarang jumlah geisha di Jepang tidak lebih dari 200 orang, jadi adalah suatu momen yang istimewa bagi saya jika bisa bertemu dengan mereka.

Geisha tidak bebas berkeliaran, mereka hanya keluar jika ada panggilan tugas. Cara jalannya pun cepat dengan kepala menunduk. Tidak mudah bisa berjumpa dengan mereka apalagi untuk berfoto bersama. Berdiri di tengah distrik Gion ditemani hembusan angin musim gugur yang dingin menusuk tulang, saya sebenarnya sudah pasrah karena Geisha yang ditunggu tak kunjung muncul. Menurut informasi yang saya peroleh dari pengurus hotel, para Geisha biasa keluar sekitar jam 5 – 6 sore. Jam di tangan sudah menunjukkan lewat waktunya dan saya sudah bersiap kembali ke hotel dengan kecewa, tetapi mendadak muncul seorang wanita dengan balutan kimono satin dari depan rumah tempat saya berdiri. Semula saya tidak yakin seorang Geisha muncul begitu saja dan berdiri di hadapan saya, tetapi setelah saya perhatikan riasan wajah dan dandanan rambutnya, saya segera menyiapkan kamera dengan setengah heran mengapa saya bisa seberuntung itu. Turis-turis yang sedang berada di distrik Gion juga berlarian ke arah saya dan segera menjepretkan kamera mereka. Suasana yang tadinya sepi dan tenang mendadak ramai seperti pasar malam. Kami seperti para penggemar fanatik yang bertemu dengan idolanya.

Maruyama Park

Maruyama Park tercatat sebagai taman tertua di Kyoto. Lokasi taman tidak jauh dari Gion Corner dan terletak persis di tengah kota. Taman ini mempunyai luas 86.000 meter persegi dan memiliki banyak pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Pada musim semi, banyak turis yang datang menikmati keindahan bunga sakura. Sedangkan penduduk Kyoto sendiri banyak yang merayakan Hanami di taman ini. Hanami artinya “melihat bunga”. Bangsa Jepang mempunyai tradisi menikmati keindahan bunga Sakura bersama keluarga. Mereka akan menggelar tikar dan pesta makan-makan di bawah pohon Sakura. Sedangkan di musim gugur, Taman Maruyama juga tidak kalah indahnya. Selain bisa melihat daun-daun yang berubah warna, kita juga bisa melihat daun maple yang hanya tumbuh di Kyoto.

Kiyomizu-dera Temple

Kuil Kiyomizu-dera yang artinya “Kuil Air Suci” boleh dikatakan adalah kuil no-2 terpopuler setelah Kinkaku-ji. Kuil yang berdiri megah di atas bukit ini tercatat sebagai kuil tertua di antara ribuan kuil yang ada di Kyoto. Berarsitektur kayu dan mempunyai latar pemandangan gunung yang indah. Kuil ini telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisa dunia pada tahun 1994. Musim gugur adalah saat paling tepat untuk menikmati keindahan Kiyomizu-dera, di mana pohon-pohon di pegunungan yang melatarinya sudah mulai berubah warna dan menyatu dengan warna kayu kuil. Tidak heran jika pemandangan Kiyomizu-dera saat musim gugur sering digunakan di dalam iklan-iklan untuk menarik wisatawan.

Jalan menuju Kiyomizu-dera cukup menantang karena menanjak dan terjal. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah karena di sisi kiri kanan jalan kita bisa berhenti mencicipi kuliner khas Kyoto dan belanja suvenir serta oleh-oleh lainnya. Selain toko yang menjual suvenir, banyak juga toko yang menyewakan kimono beserta atributnya dari harga yang paling murah sampai mahal. Jadi tidak heran di sepanjang jalan sampai ke kuil, kita banyak berjumpa turis-turis berkimono warna warni. Para turis itu dengan senang hati bila diajak foto bersama.

Fushimi Inari Temple

Fushimi Inari atau biasa disebut Thousand Torii Gate adalah kuil Shinto yang terletak di kaki gunung Inari. Keunikan kuil ini adalah adanya ribuan pintu gerbang yang dicat warna merah menyala. Pengunjung bisa berjalan masuk melewati gerbang-gerbang yang serasa tak berujung. Jalanan ke arah gerbang masuk akan menanjak dan kemudian menurun kembali di gerbang keluar. Sebelum bertemu aula utama, kita akan berjalan melewati sebuah gapura besar yang juga didominasi warna merah yang disebut Gerbang Romon. Selain gerbang, kita juga akan banyak melihat patung rubah. Menurut kepercayan agama Shinto, rubah adalah binatang suci utusan Dewa Inari atau Dewa Padi. Bagi yang hanya ingin mengambil foto tanpa bersusah payah melewati ribuan gerbang, bisa langsung ke arah gerbang keluar, tetapi harus sabar menunggu antrian turis yang keluar dari sana. Gerbang keluar memang jauh lebih photogenic dibandingkan gerbang masuk, jadi tidak heran turis yang keluar dari sana akan berhenti untuk berpose.

Mengunjungi Jepang terutama Kyoto, kita bisa melihat betapa masyarakat Negeri Matahari Terbit ini begitu menghargai peninggalan sejarah mereka. Jepang terkenal sebagai negara berteknologi canggih, tetapi masyarakatnya masih erat memegang tradisi. Suatu kombinasi yang patut dicontoh oleh bangsa lain. Walau kita tidak mengerti apa yang mereka katakan, tetapi kita bisa merasakan keramahan mereka. Dan satu hal yang membuat saya kagum, bangsa Jepang tidak pernah membuang sampah sembarangan walaupun tong sampah begitu langka di negeri ini. Mereka akan menyimpan sampahnya di kantongan plastik sendiri dan baru dibuang ketika menemukan tong sampah, bila perlu akan dibawa pulang dan buang di rumah. Salut !

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Free Email Updates
Get the latest content first.
We respect your privacy.